

(Photo by Robertus Pudyanto/Getty Images) GIBOL.CO.ID — Tekanan permainan cepat pasangan Prancis Thom Gicquel/Delphine Delrue sempat memicu konflik internal di kubu ganda campuran Indonesia Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu pada perempat final BWF World Tour Super 500 Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat.

Meski akhirnya menang lewat pertarungan tiga gim 13-21, 22-20, 21-16, Jafar/Felisha mengakui mereka harus bekerja keras untuk keluar dari pola agresif lawan. Situasi kian sulit setelah interval gim pertama, ketika intensitas serangan Prancis meningkat dan kondisi angin di dalam arena membuat pasangan Indonesia kesulitan mengembangkan permainan.
“Di gim pertama setelah interval mereka main cepat, kami juga kalah angin. Mereka terus menekan dan kami sempat bingung untuk keluar dari pola itu,” ujar Jafar seusai pertandingan.
Menurut Jafar, tekanan tersebut membuat komunikasi di lapangan berjalan cukup keras. Ia mengaku sempat berbicara tegas kepada Felisha soal pengaturan tempo dan posisi bermain agar tidak terus terseret ritme cepat lawan.

“Saya agak keras menyampaikan ke Felisha soal tempo. Saya minta tidak terlalu mundur dan berani main di bawah. Lawan punya pemain putra dengan sambungan bola yang sangat cepat,” kata Jafar.
Meski sempat diwarnai ketegangan, Jafar menegaskan komunikasi itu justru membantu mereka bangkit. Setelah kehilangan gim pertama, pasangan Indonesia mulai menemukan ritme, memaksa rubber game lewat kemenangan tipis di gim kedua, lalu menuntaskan laga pada gim penentu.
Felisha menyebut pertandingan tersebut menjadi ujian mental karena pasangan Prancis tampil solid dan konsisten menekan sejak awal.
“Puji Tuhan, saya bersyukur bisa ke semifinal tanpa cedera apa pun dan bisa keluar dari tekanan dengan hasil yang baik,” ujar Felisha.
Ia mengakui pola permainan lawan membuat mereka tidak mudah langsung keluar dari tekanan.
“Match tadi tidak mudah karena lawan bermain sangat baik. Pola mereka menyulitkan kami dan untuk keluar dari pola itu juga tidak gampang,” katanya.
Felisha menambahkan, daya juang, komunikasi, dan rasa tidak mau kalah menjadi kunci untuk mengembalikan kontrol permainan, terutama setelah mereka terus tertekan di fase akhir gim pertama.
“Di gim pertama kami terus digerebek setelah interval. Di gim kedua awalnya masih terbawa, tapi komunikasi dan rasa tidak mau kalah itu yang membuat kami bisa kembali mengendalikan pertandingan,” ujarnya.
Menatap semifinal, Jafar/Felisha menegaskan fokus mereka tertuju pada pemulihan kondisi dan evaluasi strategi, tanpa terbebani status unggulan ataupun siapa pun calon lawan. Pada babak empat besar, mereka akan menghadapi pemenang laga antara unggulan kelima asal China Guo Xin Wa/Chen Fang Hui melawan wakil Denmark Mathias Christiansen/Alexandra Boje.
“Semua lawan tidak ada yang mudah. Kami pernah menang dan kalah. Sekarang fokus recovery dan evaluasi game plan agar besok bisa tampil lebih baik,” kata Jafar.
Felisha menekankan pentingnya menjaga komunikasi tetap terbuka agar tekanan tidak menumpuk selama pertandingan.
“Lebih baik tetap ekspresif dan disampaikan langsung, jangan ditahan-tahan supaya tidak menumpuk,” ujarnya.
Meski baru memastikan tempat di semifinal, Jafar/Felisha menegaskan target mereka tetap mengarah pada gelar juara Indonesia Masters 2026.
admin24 Januari 2026
GIBOL.CO.ID — Pekan ke-23 Liga Inggris 2025/2026 akan menyajikan laga besar saat Arsenal menjamu Manchester United (MU) di Stadion Emirates,…

Sepak Bola
admin24 Januari 2026

Bulu Tangkis

No Comments