x

Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo

4 minutes reading
Monday, 9 Feb 2026 06:48 0 admin

GIBOL.CO.ID — Piala Dunia 2026 disebut bisa menjadi panggung pembuktian bagi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Dalam turnamen yang kickoff pada 11 Juni 2026, Messi dan Ronaldo masing-masing diproyeksikan berusia 39 tahun dan 42 tahun.

Bagi keduanya, Piala Dunia 2026 juga akan menjadi Piala Dunia keenam sepanjang karier.

Target sejarah Messi bersama Argentina

Messi diposisikan mengejar catatan sejarah baru. Ia disebut berusaha menjadi orang Argentina kedua setelah Daniel Passarella yang mampu dua kali menjuarai Piala Dunia, sekaligus menjadi orang ke-21 yang pernah dua kali mengangkat trofi tersebut.

Di level individu, Messi juga sudah mencatat 26 pertandingan di Piala Dunia dan disebut sebagai pemain dengan jumlah laga Piala Dunia terbanyak, sebuah rekor yang dinilai hampir mustahil dikejar pemain lain.

Tak berhenti di situ, Messi juga disebut tinggal empat gol lagi untuk melewati rekor gol terbanyak Piala Dunia milik Miroslav Klose (16 gol).

Sementara di level tim, Argentina menargetkan status langka: menjadi tim pertama dalam 64 tahun terakhir yang mampu juara Piala Dunia dua edisi beruntun. Disebutkan, Brasil adalah tim terakhir yang berhasil back to back pada 1958 dan 1962.

Misi Ronaldo: mengejar mahkota yang belum ada

Di sisi lain, Cristiano Ronaldo masih membawa rasa penasaran karena belum pernah merasakan gelar juara Piala Dunia setelah gagal pada lima edisi sebelumnya.

Piala Dunia 2026 disebut menjadi kesempatan Ronaldo untuk menyandingkan dirinya dengan Messi dan para legenda lain yang pernah menjadi juara dunia. Jika tidak, ia berpotensi bernasib seperti Eusebio dan Johan Cruyff—megabintang yang tak pernah mengangkat trofi Piala Dunia.

Ada catatan lain yang ikut mengemuka: jika Portugal menjuarai Piala Dunia 2026, maka Ronaldo disebut akan menjadi pemain tertua yang mengangkat trofi Piala Dunia.

Bukan cuma Messi-Ronaldo: panggung generasi baru

Turnamen berformat baru di tiga negara Amerika Utara itu juga disebut bakal jadi ajang pembuktian bagi talenta muda, seperti Lamine Yamal, Erling Haaland, dan nama-nama lain.

Potensi panas di luar lapangan

Namun, sorotan Piala Dunia 2026 tidak melulu soal sepak bola. Turnamen ini juga dinilai berpotensi memanas secara politik, terutama di Amerika Serikat, yang disebut dipimpin Presiden Donald Trump.

Dalam artikel yang sama, Trump disebut agresif mengusik sejumlah negara—termasuk Iran, Kanada, dan Denmark. Dua dari tiga negara itu disebut sudah memastikan diri menjadi peserta: Iran sebagai salah satu wakil Asia, sedangkan Kanada berstatus tuan rumah bersama AS dan Meksiko.

Nasib Denmark disebut ditentukan pada 26 dan 31 Maret saat menghadapi Makedonia Utara di semifinal playoff zona Eropa, lalu final melawan Ceko atau Republik India. Jika lolos, Denmark disebut akan mengawali laga di Meksiko, dan bila lolos fase gugur bakal melanjutkan berlaga di AS. Sementara Iran disebut bahkan sudah sejak fase grup bertanding di AS.

Ketegangan Denmark, Iran, dan Kanada dengan Trump disebut muncul dari isu berbeda: Greenland, perang tarif, serta potensi perang terbuka terkait tenggat perjanjian nuklir.

Selain itu, karena Piala Dunia 2026 digelar Juni–Juli, momen tersebut disebut berada di fase krusial dinamika politik AS menjelang Pemilu Sela November 2026, yang menentukan arah pemerintahan Trump berikutnya. FIFA disebut telah memasang “garis merah” terkait profesionalitas penyelenggaraan agar skenario buruk tidak terjadi.

Kekhawatiran tak ramah untuk penonton non-tuan rumah

Kekhawatiran lain yang disorot adalah potensi Piala Dunia 2026 menjadi turnamen yang tidak ramah bagi penonton non-tuan rumah. Ini mengemuka setelah kebijakan imigrasi ketat Trump disebut memicu kontroversi, dengan ICE (Immigration and Customs Enforcement) sebagai ujung tombak penegakan.

Dalam artikel, tindakan ICE disebut dinilai berlebihan hingga diklaim menembak mati dua warga sipil AS yang tidak memiliki catatan kriminal, serta disebut bisa menggeledah dan menangkap tanpa surat perintah pengadilan.

Salah satu nama yang disebut adalah warga AS penyandang disabilitas keturunan Bangladesh, Aliya Rahman, yang bersaksi dalam dengar pendapat di DPR AS dan videonya viral. Dampaknya, sebagian publik global disebut menganggap ini bukan waktu yang tepat bepergian ke AS, termasuk bagi calon penonton Piala Dunia 2026.

Kekhawatiran itu makin kuat karena dari total 104 pertandingan Piala Dunia 2026, 78 laga disebut akan digelar di AS, termasuk seluruh laga perempat final, semifinal, dan final. Bahkan muncul kabar pengerahan petugas penegakan hukum imigrasi ke venue-venue Piala Dunia 2026, yang dikhawatirkan membuat kota-kota penyelenggara tidak ramah bagi pendatang.

Isu ini disebut menjadi pekerjaan rumah bagi FIFA dan pihak pemerintah AS, karena jika dianggap sepele bisa membahayakan atmosfer turnamen—terlebih format baru 48 tim justru membawa pesan kompetisi yang lebih inklusif dan merangkul lebih banyak kawasan.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
x